Pintu

Bagaimana sesuatu dapat melekat selama itu dalam pikiranmu?

Aku diam di depan pintu itu. Tak berani mengetuk, tak berani memanggil. Meskipun loncengnya hanya beberapa inci dari jari-jariku. Kutunggu dia keluar.

Sambil menunggu, pandanganku berlayar ke sekeliling halaman. Indah. Bunga-bunga api, bara-bara cinta. Senyum mulai terukir di bibirku.

“Pahit.” batinku. Kutatap pintu itu untuk yang terakhir kalinya, dan kukubur bunga-bunga itu selama-lamanya.

Malam Lagi

Tak terasa, sudah malam lagi
Angin yang menyentuh kulitku terasa dingin, sangat nyata
Cahaya lampu menyilaukan pandangan, sangat nyata
Bau pesing keringat dan segelas kopi yang menyengat, sangat nyata
Sudah tidak ada lagi, sangat nyata

Lagi, malam lagi
Samar-samar suara-suara terdengar dari kejauhan
Sangat ramai, bukan?
Membosankan

Bandung.